Sahabatku,
Dalam keseharian kehidupan ini, kita seringkali melakukan aktivitas bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap, itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan, kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya, kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.
Hanya saja, jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya topeng yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isi dari topeng yang kita pakai ini. Yaitu diri kita sendiri.
Sahabatku,
Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, "Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?"
Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, "Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah yang Mahaagung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"
Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thayibah, 'laaillaahaillallaah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akhirat akan memakan buah zakum yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah? Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!"
"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Betapa banyak kata-kata yang manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampunimu?"
Sahabatku,
Tataplah diri kita dan tanyalah, "Hai kamu ini anak shaleh atau anak durjana? Apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini? Dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya?! Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!"
"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga sana? Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahannam tanpa ampun dengan derita tiada akhir?"
"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau zhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau rampas?"
"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotoranmu?"
Sahabatku,
Ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau si pelit yang menyebalkan? Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu"
"Apakah engkau ini shaleh atau shalehah seperti yang engkau tampakkan? Khusyu-kah shalatmu, zikirmu, do’amu, ...ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!"
Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi. Betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus topeng-topeng duniawi!
Sahabat-sahabat sekalian,
Sesunguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.***
(Sumber : Jurnal MQ Vol.1/No.1/Mei 2001)
Rabu, 26 Agustus 2009
BERCERMIN DIRI
EMAIL DARI RASULULLAH
Malam sudah cukup larut, namun mata ini masih tak bisa terpejam. Semua tugas-tugas kantor yang kubawa pulang sudah selesai, tak lupa kusediakan setengah jam sebelum pukul 23.00 untuk membalas beberapa email yang baru sempat terbaca malam ini. Nyaris saja kupilih menu ‘shut down’ setelah sebelumnya menutup semua jendela di layar komputer, tiba-tiba muncul alert yahoo masuknya email baru. “You have 1 new message(s)...”. Seperti biasanya, aku selalu tersenyum setiap kali alert itu muncul, karena sudah bisa diduga, email itu datang dari orang-orang, sahabat, saudara, kerabat, intinya, aku selalu senang menunggu kabar melalui email dari mereka. Tapi yang ini ... Ooopss ... ini pasti main-main ... disitu tertulis “From: Muhammad Rasul Allah”
Walaupun sudah seringkali menerima junkmail atau beraneka spam, namun kali ini aku tidak menganggapnya sebagai email sampah atau orang sedang main-main denganku. Maklum, meski selama ini sering sekali teman-teman yang ‘ngerjain’, tapi kali ini, sekonyol-konyolnya teman-teman sudah pasti tidak ada yang berani mengatasnamakan Rasulullah Saw. Maka dengan hati-hati, kuraih mouse-ku dan ... klik ...
“Salam sejahtera saudaraku, bagaimana khabar imanmu hari ini ...
Kebaikan apa yang sudah kau perbuat hari ini, sebanyak apa perbuatan dosamu hari ini ...”
Aku tersentak ... degub didada semakin keras, sedetik kemudian, ritmenya terus meningkat cepat. Kuhela nafas dalam-dalam untuk melegakan rongga dada yang serasa ditohok teramat keras hingga menyesakkan. Tiga pertanyaan awal dari “Rasulullah” itu membuatku menahan nafas sementara otakku berputar mencari dan memilih kata untuk siap-siap me-reply email tersebut. Barisan kalimat “Rasulullah” belum selesai, tapi rasanya terlalu berat untuk melanjutkannya. Antara takut dan penasaran bergelut hingga akhirnya kuputuskan untuk membacanya lagi.
“Cinta seorang ummat kepada Rasulnya, harus tercermin dalam setiap perilakunya. Tidak memilih tempat, waktu dan keadaan. Karena aku, akan selalu mencintai ummatku, tak kenal lelah. Masihkah kau mencintaiku hari ini?”
Air menetes membasahi pipiku, semakin kuteruskan membaca kalimat-kalimatnya, semakin deras air yang keluar dari sudut mataku.
“Pengorbanan seorang ummat terhadap agamanya, jangan pernah berhenti sebelum Allah menghendaki untuk berhenti. Dan kau tahu, kehendak untuk berhenti memberikan pengorbanan itu, biasanya seiring dengan perintah yang diberikan-Nya kepada Izrail untuk menghentikan semua aktifitas manusia. Sampai detik ini, pernahkah kau berkorban untuk Allah?”.
Kusorot ketengah halaman ....
“Sebagai Ayah, aku contohkan kepada ummatku untuk menyayangi anak-anak mereka dengan penuh kasih. Kuajari juga bagaimana mencintai istri-istri tanpa sedikit melukai perasaannya, sehingga kudapati istri-istriku teramat mencintaiku atas nama Allah. Aku tidak pernah merasakan memiliki orangtua seperti kebanyakan ummatku, tapi kepada orang-orang yang lebih tua, aku sangat menghormati, kepada yang muda, aku mencintai mereka. Sudahkah hari ini kau mencium mesra dan membelai lembut anak-anakmu seperti yang kulakukan terhadap Fatimah? Masihkah panggilan sayang dan hangat menghiasi hari-harimu bersama istrimu? Sudahkah juga kau menjadi pemimpin yang baik untuk keluargamu, seperti aku mencontohkannya langsung terhadap keluargaku?.
Satu hentakkan pagedown lagi ...
“Aku telah memberi contoh bagaimana berkasih sayang kepada sesama mukmin, bersikap arif dan bijak namun tegas kepada manusia dari golongan lainnya, termasuk menghormati keberadaan makhluk lain dimuka bumi. Saudaraku ...”
Cukup sudah. Aku tak lagi sanggup meneruskan rentetan kalimatnya hingga habis. Masih tersisa panjang isi email dari Rasulullah, namun baru yang sedikit ini saja, aku merasa tidak kuat. Aku tidak sanggup meneruskan semuanya karena sepertinya Rasulullah sangat tahu semua kesalahan dan kekuranganku, dan jika kulanjutkan hingga habis, yang pasti semuanya tentang aku, tentang semua kesalahan dan dosa-dosaku.
Kuhela nafas panjang berkali-kali, tapi justru semain sesak. Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, entah apa yang terjadi. Sudah tibakah waktuku? Padahal aku belum sempat me-reply email Rasulullah itu untuk memberitahukan kepada beliau bahwa aku tidak akan menjawab semua emailku dengan kata-kata. Karena aku yakin, Rasul lebih senang aku memperbaiki semua kesalahanku hari ini
Selasa, 25 Agustus 2009
ILMU DAN AMAL
Di antara wujud syukur yang harus kita tampakkan adalah menjaga ketakwaan dan meningkatkannya kepada kesempurnaan iman. Hal ini dengan mengamalkan seluruh perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya. Namun mungkinkah kita mengenal perintah dan larangan Allah tanpa ilmu?
Oleh karena itu, dalam mimbar yang mulia ini, saya menyeru pribadi saya dan hadirin sekalian untuk bertakwa dan belajar banyak tentang perintah dan larangan Allah, agar dapat mewujudkan ketakwaan dan keimanan yang lebih sempurna.
Agama Islam sebagai agama yang sempurna, indah dan menyejukkan, telah menjadikan ilmu sebagai sumber kejayaan, dan kejahilan sebagai simbol kejumudan, kesengsaraan dan keterbelakangan. Karenanya kita temukan dalam ajaran Islam kewajiban belajar dan berilmu, seperti disampaikan Rasulullah dalam sabdanya,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
"Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah).
Tidak hanya berhenti sampai di sini saja, bahkan Islam mencela dan menyalahkan orang yang berbicara dan beramal tanpa ilmu, seperti difirmankan Allah Ta’ala,
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
"Katakanlah, 'Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang mana Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui'." (Al-A'raf: 33).
Firman Allah dalam ayat di atas, adalah larangan yang bersifat umum dari berbicara dalam masalah agama tanpa dasar ilmu. Demikian juga Allah Ta’ala melarang kita beramal dan berkata dengan taklid dan mengekor pendapat orang lain tanpa mengetahui dasarnya. Allah Ta’alaberfirman,
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabannya." (Al-Isra` : 36).
Semua ini tentunya menjadikan kita berhati-hati dalam berkata dan berbuat, sebab akibatnya fatal bila kita berbicara dan berbuat tanpa dasar ilmu yang jelas.
Islam memandang bahwa perkataan dan perbuatan itu dihukumi benar dan diterima bila dilandasi dengan ilmu. Oleh karena itu, Imam al-Bukhari membuat judul salah satu bab dalam Shahihnya dengan "Bab al-Ilmu Qabla al-Qaul wa al-Amal" (Bab yang menje-laskan harusnya berilmu sebelum berkata dan berbuat). Beliau berdalil dengan Firman Allah Ta’ala,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (yang haq) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal." (Muhammad 19).
Dalam ayat yang mulia ini, Allah q memulainya dengan perintah berilmu sebelum berkata dan beramal.
Jelaslah di sini bahwa Imam al-Bukhari menjadikan ayat ini sebagai dasar kewajiban berilmu sebelum berkata dan beramal. Ini menunjukkan bahwa seseorang harus mengetahui atau berilmu dahulu baru kemudian berkata atau beramal. Mengapa demikian?
Sebab perkataan dan perbuatan tidak akan sah dan diterima oleh Allah kecuali bila sesuai syariat. Seseorang tidak mungkin bahwa mengetahui amalan dan perkataannya telah sesuai syariat kecuali dengan ilmu.
Dengan demikian, seorang Muslim harus belajar dan menuntut ilmu, agar seluruh perkataan dan perbuatannya berdasarkan ilmu dan bashirah, apalagi dalam berdakwah. Sehingga dengannya kita dapat menjadi pengikut Rasulullah a dan dapat meniti jalan dakwah beliau a. Ingatlah Firman Allah Ta’ala,
قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Katakanlah, 'Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik'."(Yusuf : 108).
Keutamaan 10 Hari Terakhir Ramadhan
Bulan Ramadhan merupakan momentum peningkatan kebaikan bagi orang-orang yang bertaqwa dan ladang amal bagi orang-orang shaleh. Terutama, sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Sebagian ulama kita membagi bulan ini dengan tiga fase: fase pertama sepuluh hari awal Ramadhan sebagai fase rahmat, sepuluh di tengahnya sebagai fase maghfirah dan sepuluh akhirnya sebagai fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi: “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi saw. ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan: “Beliau jika memasuki sepuluh hari terkahir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”
Apa rahasia perhatian lebih beliau terhadap sepuluh hari terakhir Ramadhan? Paling tidak ada dua sebab utama:
Sebab pertama, karena sepuluh terkahir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannnya atau akhirnya. Rasulullah saw. berdo’a:
“اللهم اجعل خير عمري آخره وخير عملي خواتمه وخير أيامي يوم ألقاك”
“Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu Kelak.”
Jadi, yang penting adalah hendaknya setiap manusia meangakhiri hidupnya atau perbuatannya dengan kebaikan. Karena boleh jadi ada orang yang jejak hidupnya melakukan sebagian kebaikan, namun ia memilih mengakhiri hidupnya dengan kejelekan.
Sepuluh akhir Ramadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap manusia mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan mencurahkan daya dan upaya untuk meningkatkan amaliyah ibadah di sepanjang sepuluh hari akhir Ramadhan ini.
Sebab kedua, karena dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan di duga turunnya lailatul qadar, karena lailatul qadar bisa juga turun pada bulan Ramadhan secara keseluruhan, sesuai dengan firman Allah swt.
إنا أنزلناه في ليلة القدر
“Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Qur’an pada malam kemulyaan.”
Allah swt. juga berfirman:
شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان
“Bulan Ramadhan,adalah bulan diturunkan di dalamnya Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk dan pembeda -antara yang hak dan yang batil-.”
Dalam hadits disebutkan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan di dalamnya ada lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa diharamkan darinya maka ia diharamkan mendapatkan kebaikan seluruhnya. Dan tidak diharamkan kebaikannya kecuali ia benar-benar terhalang -mahrum-.”
Al qur’an dan hadits sahih menunjukkan bahwa lailatul qadar itu turun di bulan Ramadhan. Dan boleh jadi di sepanjang bulan Ramadhan semua, lebih lagi di sepuluh terakhir Ramadhan. Sebagaimana sabda Nabi saw.:
“التمسوها في العشر الأواخر من رمضان“.
“Carilah lailatul qadar di sepuluh terakhir Ramadhan.”
Pertanyaan berikutnya, apakah lailatul qadar di seluruh sepuluh akhir Ramadhan atau di bilangan ganjilnya saja? Banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir. Dan juga banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar ada di bilangan ganjil akhir Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:
“التمسوها في العشر الأواخر وفي الأوتار”
“Carilah lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dan di bilangan ganjil.”
“إن الله وتر يحب الوتر”
“Sesungguhnya Allah ganjil, menyukai bilangan ganjil.”
Oleh karena itu, kita rebut lailatul qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan, baik di bilangan ganjilnya atau di bilangan genapnya. Karena tidak ada konsensus atau ijma’ tentang kapan turunya lailatul qadar.
Di kalangan umat muslim masyhur bahwa lailatul qadar itu turun pada tanggal 27 Ramadhan, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab dan Ibnu Umar radhiyallahu anhum. Akan tetapi sekali lagi tidak ada konsensus pastinya.
Sehingga imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Bari” menyebutkan, “Paling tidak ada 39 pendapat berbeda tentang kapan lailatul qadar.”
Ada yang berpendapat ia turun di malam dua puluh satu, ada yang berpendapat malam dua puluh tiga, dua puluh lima, bahkan ada yang berpendapat tidak tertentu. Ada yang berpendapat lailatul qadar pindah-pindah atau ganti-ganti, pendapat lain lailatul qadar ada di sepanjang tahun. Dan pendapat lainnya yang berbeda-beda.
Untuk lebih hati-hati dan antisipasi, hendaknya setiap manusia menghidupkan sepuluh hari akhir Ramadhan.
Apa yang disunnahkan untuk dikerjakan pada sepuluh hari akhir Ramadhan?
Adalah qiyamullail, sebelumnya didahului dengan shalat tarawih dengan khusyu’. Qira’atul qur’an, dzikir kepada Allah, seperti tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, istighfar, do’a, shalawat atas nabi dan melaksanakan kebaikan-kebaikan yang lainnya.
Lebih khusus memperbanyak do’a yang ma’tsur:
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قُلْت : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْت إنْ عَلِمْت أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ، مَا أَقُولُ فِيهَا ؟ قَالَ : قُولِي : اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa beliau berkata: “Saya berkata: Wahai Rasul, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa malam ini adalah lailatul qadar, apa yang harus aku kerjakan? Nabi bersabda: “Ucapkanlah: “Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu ‘anni.” (Ya Allah, Engkau Dzat Pengampun, Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka ampunilah saya.” (Ahmad dan disahihkan oleh Al-Albani)
Patut kita renungkan, wahai saudaraku muslim-muslimah: “Laa takuunuu Ramadhaniyyan, walaakin kuunuu Rabbaniyyan. Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan, tapi jadilah hamba Tuhan.” Karena ada sebagian manusia yang menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan keta’atan dan qiraatul Qur’an, kemudian ia meninggalkan itu semua bersamaan berlalunya Ramadhan.
Kami katakan kepadanya: “Barangsiapa menyembah Ramadhan, maka Ramadhan telah mati. Namun barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah tetap hidup dan tidak akan pernah mati.”
Allah cinta agar manusia ta’at sepanjang zaman, sebagaimana Allah murka terhadap orang yang bermaksiat di sepanjang waktu.
Dan karena kita ingin mengambil bekalan sebanyak mungkin di satu bulan ini, untuk mengarungi sebelas bulan selainnya.
Semoga Allah swt. menerima amal kebaikan kita. Amin
تقبل الله منا ومنكم صالح الأعمال.
PUASA BINATANG
Puasa ramadhan yang akan kita laksanakan mulai esok hari,sungguh tepat jika tidak hanya dijadikan “Selebrasi Relegiusitas” semata. Tapi juga momentum “ Refleksi Diri” atas berbagai ketimpangan dan bencana yang terus menghantui negara kita Indonesia ini.
Secara makna generiknya puasa berarti menahan diri dari segala hawa nafsu. Bagi orang miskin hal ini adalah suatu yang lumrah. Karena itu, puasa sebenarnya diperuntukan bagi orang-orang yang kaya, yang sehari-harinya dimanjakan dengan segala kebutuhan yang serba enak dan cepat saji. Ada kewajiban intrinsik yang bersifat moral-etis si kaya pada kaum papa. Puasa dengan demikian dapat menyentuh, menyadarkan sekaligus menumbuhkan semangat dan kewajiban moral etik kemanusiaan kita pada rakyat miskin. Dengan kata lain puasa hendaknya dijadikan media “Reformasi” kita dari hal-hal yang negatif kepada sesuatu yang lebih positif.
Ada beberapa sasaran reformasi dari adanya puasa diantaranya adalah:
Reformasi Spiritual kita mengalami peningkatan yang lebih baik dibanding sebelumnya. Dalam kontek reformasi spiritual ini pula kita semakin menyadari kehadiran Allah ditengah-tengah kita (Being Of God). Kemana-mana kita selalu dipantau oleh Allah, sehingga ketika hendak melakukan kejahatan kita urung untuk melakukannya.
Reformasi Emosional. Emosi kita yang suka marah-marah, cepat tersinggung, iri hati dan arogan semestinya bias kita kikis ketika puasa tiba. Kecerdasan emosional harus bisa kita tingkatkan. Tentunya, kecerdasan yang mengarah pada peningkatan energi emosi kita yang sangat positif. Pesimis, takut gagal, kurang percaya diri dan hal-hal negatif lainnya harus bisa kita tepis dengan adanya puasa ini
Reformasi Intelektual. Tentu saja reformasi intelektual yang dimaksud adalah tidak hanya sebatas pada upaya yang sifatnya fisik seperti menambah supplemen kecerdasan otak dan lain sebagainya. Tapi juga aktivitas kita yang dapat menunjang pengetahuan kita bertambah itu harus ditingkatkan, seperti banyak membaca buku, melatih berfikir tentang kekuasaan Allah dan rajin belajar ilmu agama kepada ustadz atau kiayi. Ketiga reformasi itulah yang patut kita capai ketika datangnya puasa. Bila kita pahami lebih dalam tiga reformasi tadi, maka ada substansi yang bisa kita petik yaitu puasa harus bisa dijadikan reformasi kita menuju sesuatu yang lebih baik. Tujuan puncak inilah yang terjadi pada binatang ketika melakukan puasa. Mungkin kita jarang tahu bahwa binatang juga berpuasa. Puasanya binatang dengan manusia hampir sama, yaitu menahan lapar dan dahaga. Hanya saja prosesnya yang berbeda. Semua makhluk di bumi ini menjalani suatu fase dimana mereka berpuasa walaupun mereka sedang berada di lingkungan yang penuh dengan makanan. “ bagi Ulat misalnya, puasa merupakan proses perubahan identitas, yaitu dari ulat menjadi kupu-kupu. Setelah berpuasa sekian lama, ulat berubah menjadi kepongpong dan lalu berubah lagi menjadi kupu-kupu yang indah. Ketika masih berwujud ulat, makannya hanya daun, sehingga merugikan orang lain karena dedaunan yang indah menjadi rusak akibat ulah ulat. Tetapi setelah menjadi kupu-kupu, makanannya berupa sari madu. Betapa puasa menahan lapar dan dahaga dapat mengubah seekor ulat yang lamban dan tidak disukai orang, akhirnya menjadi seekor kupu-kupu yang yang indah, lincah, terbang kian kemari mencari bunga-bunga yang berkembang dan banyak di gemari orang. Dengan kata lain , ulat melakukan puasa dengan tujuan yang sangat positif, meningkatkan kualitas diri dan semestinya memang seperti ini. Dari seekor binatang yang terliat jijik, gatal bila dipegang dan menggelikan bila di lihat tiba-tiba menjadi seekor binatang yang enak dipandang dan nyaman untuk dipegang. Ada tujuh kualitas yang dimiliki ulat setelah menjadi kupu-kupu:
1. Beberapa pasang kaki yang dapat memegang sesuatu dengan kokoh dan trampil
2. Mata faset yang melihat lebih jernih dan lebih luas
3. Dua pasang sayap yang overlapping
4. Sepasang antenna yang handal dan sensitif
5. Keindahan warna yang beraneka
6. Motif dan corak sayap yang unik
7. Mulut dan bulu-bulu halus di perut yang dapat mengangkut benang sari
Beberapa kualitas diatas tidak akan ditemukan pada ulat. Ulat hanya bisa mendapatkan semua kualitas itu setelah menjadi kupu-kupu. Dan semua itu tidak akan terjadi jika binatang ini tidak melakukan ritual puasa Subhanallah.
Karena itu, hikmah yang bisa kita petik dari pengalaman puasa ulat tersebut adalah bahwa puasa bisa dijadikan sarana untuk meningkatkan kualitas kita sebagai muslim baik kualitas fisik maupun non fisik. Perubahan fisik yang terjadi,yaitu ulat menjadi kupu-kupu adalah bukti bahwa puasa itu besar manfaatnya. Jadi dengan puasa akan meningkatkan kualitas diri kearah yang lebih baik. Ketika ulat menjadi kupu-kupu secara otomatis perubahan juga terjadi pada tingkatan non fisik yaitu perubahan fungsi dan peran. Dari yang tidak bisa terbang ketika menjadi ulat, tiba-tiba terbang ketika menjadi kupu-kupu.. dari sosok yang suka merugikan makhluk lain ketika menjadi ulat, tiba-tiba menghasilkan sesuatu yang sangat berguna bagi orang lain ketika menjadi kupu-kupu yaitu madu.
Selain ulat binatang lain yang juga berpuasa demi meningkatkan kualitas fisik dan non fisiknya adalah ular. Bagi ular, berpuasa semata-mata untuk menjaga struktur kulitnya agar tetap keras terlindung dari sengatan matahari dan duri-duri hingga ia tetap mampu melata di bumi. Ketika berpuasa ular tak punya nafsu makan, meskipun dihadapannya berbagai jenis makanan. Ular tidak tergoda untuk memakannya meskipun pada saat itu sedang dalam puncak kelaparan yang sangat luar biasa. Tetapi waspadalah setelah usai berpuasa, ular akan terlihat jahat dan buas. Bagi ular sendiri puasa itu adalah suatu yang positif karena akan membuatnya semakin ganas dan liar untuk memangsa jenis makhluk lainnya, tetapi bagi kita justru semua itu sangatlah berbahaya. Karena itu, puasa yang baik adalah puasa yang dapat meningkatkan kualitas diri tapi juga membuat orang lain hidupnya lebih bermanfaat. Jadi bukan puasa untuk egonya sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Sebaiknya kita mencontoh puasanya ulat bukan puasanya ular. Selain ulat dan ular, ayam juga berpuasa ketika mengerami telurnya. Ketika berpuasa ayam tidak makan dan minum. Jenis makanan apapun yang kita sajikan buat ayam, ia tidak akan memakannya ketika berpuasa. Dengan puasa, ayam akan berhasil mengerami telur dengan baik untuk menghasilkan itik.
Selain binatang darat, binatang laut pun berpuasa. Diantara jenis ikan misalnya, ada yang membenamkan dirinya didasar laut atau sungai untuk jangka waktu tertentu tanpa makan. Bagi ikan mujahir contohnya , puasa dilakukannya untuk melindungi anaknya. Ketika sedang berpuasa, meskipun didepan mulutnya ada makanan, dia tahan seleranya. Jenis binatang lain yang suka berpuasa adalah burung, ada burung yang tetap tinggal disarangnya berhari-hari, malah berbulan-bulan tidak bergerak dan tidak makan. Ada pula burung yang tetap tinggal di sarangnya pada musim-musim tertentu setiap tahun, seperti burung elang sewaktu bertelur, mengerami telur dikala menjaga anaknya.
Marilah kita jaga puasa kita, agar menjadi manusia yang berkualitas dan menjadi sosok muslim yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. dan rasa malu kita terhadap binatang tinggi jika kita tidak berpuasa, semoga amal ibadah puasa kita di bulan ramadhan tahun ini tidak kalah oleh binatang dan tentunya diterima oleh Allah SWT Yang Maha Bijaksana Amin
TARGET IBADAH
Sesuai dengan target dalam melaksanakan ibadah, yaitu menjadi hamba-hamba yang bertaqwa kepada Allah SWT, hamba yang benar menundukan diri dan menghambakan diri hanya kepada Allah SWT. Kalau diperhatikan dalam diri manusia itu ada tiga potongan besar, dan ketiga potongan itu harus bisa ditundukan agar kita mampu menjadi seorang hamba yang mendapat pengakuan nilai kehambaan kita dari Allah SWT.
Ketiga potongan besar itu adalah :
Pertama potongan kepala, dengan kepala sering membuat seseorang menjadi congkak, angkuh dan sombong entah karena ketampanannya, kecantikannya, kemampuan intelektualnya, akalnya yang jenius, sehingga lupa diri dan lupa daratan, apalagi dengan kelebihan yang dimiliki kepalanya, karena mampu merangkul berbagai macam kemewahan dunia ini, harta banyak dan ada bermacam-macam pasilitas, sehingga merasa hidupnya diatas angin. Orang seperti ini sering terkena proses pelunturan nilai.
Manusia itu bisa lupa diri ketika melihat dirinya mampu, kaya, berkuasa, pandai. Oleh karena itu kepala manusia yang merupakan bagian yang paling berharga ditengah-tengah tubuh kita ini, tetapi kita harus dapat menundukan dihadapan Allah SWT agar dalam hidup ini kita tidak menjadi congkak, angkuh dan sombong.
Dengan cara apa menundukan kepala ini? Dengan memperbanyak shalat, sujud dihadapan Allah SWT, sebab ketika sujud itu kepala yang demikian berharga kita letakan sama rendahnya dengan telapak kaki, dan pada saat itu timbul suatu pengakuan dari hati nurani yang paling dalam lewat ucapan “ Subhana Rabbiyal ‘A’la Wabihamdihi”
Kita mengakui di hadapan Allah SWT, bahwa diri kita ini kecil, lemah dan rendah serta tidak mempunyai nilai apa-apa dibanding dengan kemahabesaran Allah SWT. Maka ketika seseorang banyak sujud, dia akan menyadari akan kerendahan, kelemahan, dan kekurangan dirinya. Dengan demikian Insya Allah tidak akan pernah ada sifat sombong dalam dirinya.
Kedua adalah dada, didalam dada itu ada hati, hati manusia secara gelobal, Al Quran menggambarkan ada dua macam, yaitu Qalbun Salim hati yang tulus bersih, jernih hati yang didalamnya tidak ada penyakit dan kotoran-kotoran yang akan membahayakan. Hati yang bersih inilah diharapkan akan dibawa ketika datang menghadap Allah SWT di akhirat nanti, dan ini merupakan suatu kebanggaan. Sementara harta benda yang kita miliki dan kita banggakan di dunia, anak-anak yang telah kita didik dan berhasil menjadi orang yang berguna bagi nusa bangsa dan Negara itu diakhirat nanti tidak akan bermanfaat bagi kita. ِِAllah berfirman:
{ يَوْمَ لاَيَنَفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنَ إِلاَّ مَنْ أَتىَ بِقَلْبٍٍ سَلِيْمٍ }
Yaitu di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih ( QS: Asyu’ara : 88-89)
Kemudian hati yang keras seperti batu. Sekeras-kerasnya batu kalau setiap waktu ditempa dengan air, akan menjadi bolong dan lama kelamaan akan menjadi pecah, tetapi hati manusia ada yang setiap hari mendengarkan nasihat, tidak akan pernah luntur dan luluh. Yang menyebabkan hati menjadi keras adalah karena mempunyai status sosial yang mulia, lebih tua, lebih pengalaman. Abu lahab bukan tidak kenal siapa Muhammad Rasulullah SAW bahkan beliau adalah kemenakannya sendiri, tetapi karena gengsi, status sosial, pengalaman, umurnya lebih tua dia tidak pernah mau menerima kebenaran yang dibawa oleh kemenakannya sendiri, Muhammad Rasulullah SAW. Agar hati tidak keras maka harus ditundukan dihadapan Allah SWT dengan cara berdzikir.
Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah
Ketiga adalah perut dan dibawah perut, Rasulullah SAW menyatakan “ Musuhmu yang paling sulit untuk dikalahkan adalah apa yang ada diantara lambungmu ”. Perut merupakan sumber malapetaka dan kehancuran, dimana seseorang nekad melakukan kejahatan Karena tuntutan perut.
Demikian juga kebutuhan yang dibawah perut, terjadinya perzinahan, pemerkosaan dan kejahatan seksual lainnya adalah karena tuntutan yang dibawah perut. Oleh karena itu perut dan dibawah perut ini harus ditundukan pula dan jangan dimanjakan. Untuk menundukan perut itu adalah dengan pelaksanaan ibadah dan salahsatunya adalah ibadah puasa.
Kalau kepala ditundukan dengan banyak sujud kepada Allah SWT, hati ditundukan dengan banyak berdzikir kepada Allah SWT serta perut dan dibawah perut ditundukan dengan ibadah puasa, maka kita akan mengetahui, siapa diri kita? Serta apa fungsi dan kedudukan kita yang sebenarnya?


