miel miel miel miel miel miel miel miel miel miel miel miel miel

Selasa, 25 Agustus 2009

TARGET IBADAH

Sesuai dengan target dalam melaksanakan ibadah, yaitu menjadi hamba-hamba yang bertaqwa kepada Allah SWT, hamba yang benar menundukan diri dan menghambakan diri hanya kepada Allah SWT. Kalau diperhatikan dalam diri manusia itu ada tiga potongan besar, dan ketiga potongan itu harus bisa ditundukan agar kita mampu menjadi seorang hamba yang mendapat pengakuan nilai kehambaan kita dari Allah SWT.
Ketiga potongan besar itu adalah :
Pertama potongan kepala, dengan kepala sering membuat seseorang menjadi congkak, angkuh dan sombong entah karena ketampanannya, kecantikannya, kemampuan intelektualnya, akalnya yang jenius, sehingga lupa diri dan lupa daratan, apalagi dengan kelebihan yang dimiliki kepalanya, karena mampu merangkul berbagai macam kemewahan dunia ini, harta banyak dan ada bermacam-macam pasilitas, sehingga merasa hidupnya diatas angin. Orang seperti ini sering terkena proses pelunturan nilai.
Manusia itu bisa lupa diri ketika melihat dirinya mampu, kaya, berkuasa, pandai. Oleh karena itu kepala manusia yang merupakan bagian yang paling berharga ditengah-tengah tubuh kita ini, tetapi kita harus dapat menundukan dihadapan Allah SWT agar dalam hidup ini kita tidak menjadi congkak, angkuh dan sombong.
Dengan cara apa menundukan kepala ini? Dengan memperbanyak shalat, sujud dihadapan Allah SWT, sebab ketika sujud itu kepala yang demikian berharga kita letakan sama rendahnya dengan telapak kaki, dan pada saat itu timbul suatu pengakuan dari hati nurani yang paling dalam lewat ucapan “ Subhana Rabbiyal ‘A’la Wabihamdihi”
Kita mengakui di hadapan Allah SWT, bahwa diri kita ini kecil, lemah dan rendah serta tidak mempunyai nilai apa-apa dibanding dengan kemahabesaran Allah SWT. Maka ketika seseorang banyak sujud, dia akan menyadari akan kerendahan, kelemahan, dan kekurangan dirinya. Dengan demikian Insya Allah tidak akan pernah ada sifat sombong dalam dirinya.

Kedua adalah dada, didalam dada itu ada hati, hati manusia secara gelobal, Al Quran menggambarkan ada dua macam, yaitu Qalbun Salim hati yang tulus bersih, jernih hati yang didalamnya tidak ada penyakit dan kotoran-kotoran yang akan membahayakan. Hati yang bersih inilah diharapkan akan dibawa ketika datang menghadap Allah SWT di akhirat nanti, dan ini merupakan suatu kebanggaan. Sementara harta benda yang kita miliki dan kita banggakan di dunia, anak-anak yang telah kita didik dan berhasil menjadi orang yang berguna bagi nusa bangsa dan Negara itu diakhirat nanti tidak akan bermanfaat bagi kita. ِِAllah berfirman:
{ يَوْمَ لاَيَنَفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنَ إِلاَّ مَنْ أَتىَ بِقَلْبٍٍ سَلِيْمٍ }

Yaitu di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih ( QS: Asyu’ara : 88-89)

Kemudian hati yang keras seperti batu. Sekeras-kerasnya batu kalau setiap waktu ditempa dengan air, akan menjadi bolong dan lama kelamaan akan menjadi pecah, tetapi hati manusia ada yang setiap hari mendengarkan nasihat, tidak akan pernah luntur dan luluh. Yang menyebabkan hati menjadi keras adalah karena mempunyai status sosial yang mulia, lebih tua, lebih pengalaman. Abu lahab bukan tidak kenal siapa Muhammad Rasulullah SAW bahkan beliau adalah kemenakannya sendiri, tetapi karena gengsi, status sosial, pengalaman, umurnya lebih tua dia tidak pernah mau menerima kebenaran yang dibawa oleh kemenakannya sendiri, Muhammad Rasulullah SAW. Agar hati tidak keras maka harus ditundukan dihadapan Allah SWT dengan cara berdzikir.
Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah
Ketiga adalah perut dan dibawah perut, Rasulullah SAW menyatakan “ Musuhmu yang paling sulit untuk dikalahkan adalah apa yang ada diantara lambungmu ”. Perut merupakan sumber malapetaka dan kehancuran, dimana seseorang nekad melakukan kejahatan Karena tuntutan perut.
Demikian juga kebutuhan yang dibawah perut, terjadinya perzinahan, pemerkosaan dan kejahatan seksual lainnya adalah karena tuntutan yang dibawah perut. Oleh karena itu perut dan dibawah perut ini harus ditundukan pula dan jangan dimanjakan. Untuk menundukan perut itu adalah dengan pelaksanaan ibadah dan salahsatunya adalah ibadah puasa.
Kalau kepala ditundukan dengan banyak sujud kepada Allah SWT, hati ditundukan dengan banyak berdzikir kepada Allah SWT serta perut dan dibawah perut ditundukan dengan ibadah puasa, maka kita akan mengetahui, siapa diri kita? Serta apa fungsi dan kedudukan kita yang sebenarnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

in uriidu illa al ishlah